HSN,MANADO – Dekan Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Prof. Fabian Manoppo mengungkapkan, bahwa potensi air tanah di Kota Manado saat ini sudah sangat kecil.
Menurut Prof. Fabian, hal tersebut diakibatkan oleh eksplorasi air tanah yang semakin tinggi di Kota Tinutuan ini.
“Persoalannya pertama, karena perkembangan kota dimana saat ini kita menjadi kota bisnis. Kedua, sumber air tanah seperti hutan semakin kecil, karena kita dituntut untuk perkembangan perumahan, jalan, dan sebagiannya, serta adanya pencemaran air.
Untuk itu para pengambil kebijakan, kalau bisa kita sama-sama menjaga, bersinergi untuk sama-sama melihat permasalahan dan memecahkan secara komunikatif demi menjaga air untuk generasi mendatang,” kata Prof Fabian ditalkshow bertema Akses Air Bersih Untuk Semua, yang berlangsung di Aula Dekanat, Unsrat, Jumat (22/3/2024).
Kegiatan yang digelar di acara puncak Hari Air Dunia (HAD) ke 32 merupakan kerjasama Pemerintah Kota (Pemkot) Manado, akademisi, mahasiswa, aktivis penggiat Lingkungan dan masyarakat peduli sungai dan danau, dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS I).
Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat) Bob Arthur Lombogia dalam sambutannya mengatakan, kegiatan HAD dilaksanakan seiring dengan Pelaksanaan World Water Forum (WWF) ke 10, yang akan digelar di Bali Mei 2024 mendatang, sehingga tema HAD tahun ini yakni Water for Peace atau Air Untuk Perdamaian.
“Melalui tema ini, kita ketahui bersama bahwa peran air dalam kehidupan manusia adalah sangat penting. Oleh sebab itu, pengelolaan sumber daya air adalah suatu hal yang harus kita lakukan secara bersama-sama agar air dapat terjaga baik dari segi kuantitas, kualitas, maupun kontinuitas daripada air itu sendiri untuk kehidupan kita manusia,” urai Lombogia.
Dia berharap, talkshow ini dapat menghasilkan buah-buah pikiran, ide-ide maupun inovasi dalam rangka pelestarian sumber daya air untuk diwariskan kepada anak cucu di masa akan datang.
Di acara tersebut Kepala BWSS I, Sugeng Harianto menyebutkan beberapa langkah kongkrit agar air dapat terjaga baik dari segi kuantitas, kualitas, maupun kontinuitas. “Kita harus menyiapkan banyak sekali tampungan air, itu yang utama.
Kemudian dari sisi kualitas, kita tidak bisa bekerja sendiri tetapi juga bekerja dengan pemerintah dan seluruh pihak stakeholder yang lain dalam menjaga kualitas air. Dari segi kontinuitasnya atau keberlanjutannya, tentu saja bagaimana kita menjaga konservasi di daerah hulu.
Air yang bersumber dari tangkapan air, itu kita jamin keberlangsungannya sampai nanti,” ujar Sugeng.
Kepala Bapelitbangda Manado Linny Tambajong memaparkan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan air bersih.
Diantaranya, dibutuhkan berbagai upaya pelestarian sumber daya air dengan melindungi ekosistem dari kerusakan lingkungan, pengelolaan limbah yang bijak, dan investasi infrastruktur air bersih di daerah terpencil.
Selain itu edukasi masyarakat dan kolaborasi antara Pemerintah, masyarakat, LSM dan swasta, serta pengawasannya yang merupakan hal sangat penting. Pada talkshow itu Sekretaris HATHI Sulut sekaligus Dosen di Fakultas Teknik Unsrat Dr. Liany A Hendratta juga memberikan solusi beberapa inovasi untuk mempermudah akan akses air bersih.
Menuru Dr Liany, pembangunan sistem pengelolaan air bersih untuk masyarakat dibutuhkan sentuhan teknologi, agar akses air yang berkualitas dapat dijangkau oleh semua masyarakat.
Dimomen Hari Air Dunia (HAD) ke-32 moderator talkshow yang juga dosen Fakultas Teknik Unsrat Jeffry Sumarauw, mengingatkan semua pihak bahwa air dapat memicu potensi konflik dan perdamaian.
“Kemakmuran dan perdamaian tergantung pada air. Karena, dengan adanya ketersediaan air yang cukup dapat membantu kita untuk keluar dari krisis,” kata Dr Jeffry Sumarauw.
Pada taklshow ini juga disampaikan beberapa program penyediaan air baku yang dilaksanakan Balai Sungai. Diantarannya pembangunan intake sarana air baku di beberapa daerah seperti di Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Minahasa Utara (Minut), serta pembangunan prasarana air baku di Bendungan Lolak dan Bendungan Kuwil Kawangkoan, Minut.
Berbagai kegiatan terkait perayaan HAD yang digelar Kementerian PUPR BWSS I sepanjang bulan berjalan ini diantaranya penanaman bibit pohon produktif di Bendungan Lolak, Desa Pindol Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow pada 2 Maret 2024.
Kegiatan penanaman pohon tersebut merupakan salah satu upaya dalam rangka konservasi sumber daya air demi keberlangsungan air.
Selain itu dilaksanakan SDA Goes to School sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya air bersih dan bagaimana mengelola sumber air bersih secara bijak dan berkeadilan, berlangsung di SDN 98 Sario, 7 Maret 2024), serta puncak acara HAD digelar talkshow bersama Pemkot Manado, akademisi, mahasiswa, aktivis penggiat lingkungan, masyarakat peduli sungai dan danau, dan jajaran BWSS I. (ndy)






