HSN,MANADO – Provinsi Sulawesi Utara tercatat pada bulan Juni 2025 pertengahan tahun ini mengalami inflasi sebesar 1,71 persen (YoY). Meskipun masih dalam terkendali, namun beberapa komoditas utama yang mendorong inflasi seperti beras dan emas patut menjadi perhatian dikalangan masyarakat. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut Joko Supratikto menuturkan beras dan emas memiliki andil besar dalam inflasi yang sama 0,34 persen.
Disampaikan Joko kepada awak media, “Kita patut bersyukur inflasi Juni masih dalam rentang terjaga,” saat pertemuan rutin dan bincang media terkait Perkembangan Ekonomi & Inflasi Terkini. Pada Senin, (28/7/2025) di Ruang Tomohon, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut.
Kenaikan emas perhiasan ini, lanjut Supratikto, dikarenakan peperangan yang terjadi di negara luar belum usai. “Sebagai barang investasi yang dianggap aman sehingga ketertarikan menyimpan emas semakin tinggi,” ungkapnya.
Adapun salah satu penyebab di Sulut terjadi inflasi yakni kenaikan harga beras. Di mana, ada beberapa faktor yang membuat komoditas tersebut harganya naik. “Terkait dengan beras karena kendala pengeringan gabah yang kemarin curah hujan tinggi. Sentra produksi beras di Bolmong alam hujan tinggi. Di sisi lain di daerah pemasok seperti di Sulawesi Tengah, ternyata belum masa panen,” ungkap Supratikto.
Sementara itu, Supratikto tak membantah soal isu mengenai petani yang mulai beralih menanam nilam. Menurut dia, peralihan lahan tersebut karena faktor nilai ekonomi suatu barang. “Secara prinsip kami Bank Indonesia tidak bisa memaksa petani tanam ini. Tapi, kami hanya mengedukasi kemunculan petani yang baru, yang memang tertarik dengan itu,” tuturnya.
Upaya yang dilakukan pihaknya, adalah mendorong peningkatan produksi lewat petani yang sudah ada atau existing. “Kami memberikan pelatihan, pemberian bantuan bibit tanaman unggul agar panen lebih,” katanya.
Walaupun tidaklah mudah, namun pihaknya ikut menyarankan panen yang terjadwal agar saat panen nanti tidak menumpuk di waktu tertentu. “Kita sinergi dengan pemerintah daerah untuk bisa mengatur penjadwalan itu,” lanjut dia.
Ketika terjadi kelangkaan, ia menuturkan langsung bekerja sama dengan daerah, baik antarkabupaten maupun antarprovinsi serta berkolaborasi dengan Bulog. “Bulog sangat membantu karena mereka yang memahami stok beras ada berapa dan disalurkan ke mana,” imbuhnya.
Selain itu, operasi pasar pun langsung dilakukan ketika terjadi kelangkaan beras. “Ini membantu menurunkan harga walaupun tak sertamerta,” tukas Supratikto. (ndy)






