Gubernur Yulius Selvanus: Kolintang, Nada Warisan Leluhur yang Terus Digaungkan

oleh -685 Dilihat
oleh

HSN,MANADO – Gubernur Yulius Selvanus memilih menabuh bilah-bilah kayu. Diberbagai kesempatan, ia tampil tak hanya sebagai Kepala Daerah, tapi juga sebagai seorang pemusik tradisional.

Jemarinya piawai memegang tiga mallet kecil yang menggetarkan alat musik Kolintang nada “tong”, “tang”, hingga “ting” mengalun sebagai pesan “jangan lupakan akar budaya kita”.

“Kolintang adalah identitas, bukan sekadar alat musik, melainkan jiwa dari Minahasa dan Sulawesi Utara,” kata Gubernur yang tegas dan suka bercanda di rumah dinasnya.

Warisan dari tanah Minahasa ini telah melewati generasi, dimainkan untuk mengiringi upacara adat, tarian perang, hingga menjadi instrumen solo dalam panggung pertunjukan.

Setiap bilah kayu Kolintang menyimpan cerita, disusun berderet di atas peti kayu yang memantulkan bunyi khas, membentuk nada-nada seperti xylophone, namun lebih dalam dan lebih membumi.

Tak banyak kepala daerah yang mau tampil di hadapan publik dengan mengenakan baju adat, memainkan alat musik tradisional, dan menyerukan pelestarian budaya tanpa jeda.

Yulius Selvanus termasuk yang langka.

“Budaya tak boleh hanya dijaga dalam museum, ia harus hidup, dimainkan, dan dicintai,” ujarnya, sembari menunjukkan cara memegang mallet.

Cara memainkannya memang tak sederhana.

Diperlukan koordinasi jari dan kepekaan nada serta konsentrasi yang tinggi untuk menghasilkan nada yang indah.

Tapi seperti yang ditunjukkan Gubernur, lebih dari keterampilan teknis, yang dibutuhkan adalah rasa, rasa bangga terhadap warisan.

Kini, Kolintang tak hanya terdengar di rumah-rumah warga tua Minahasa atau tempat kerajinan kayu telur, wenuang, atau waru.

Gubernur meletakan harapan besar di sekolah, panggung festival, hingga acara kenegaraan, agar Kolintang semakin rutin dimainkan.

Pemerintah provinsi di bawah kepemimpinan Yulius bahkan menggagas program revitalisasi budaya, mendorong generasi muda mengenal termasuk memainkan Kolintang.

Dari nada ke nada, dari tangan ke tangan, Kolintang terus hidup.

Sebab selama pemimpin masih bersedia memainkannya, dan rakyat bangga mendengarnya, maka identitas Minahasa tak akan pernah redup.

“Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus, tak hanya memimpin dengan visi, tapi juga menjaga harmoni budaya lewat getaran bilah-bilah kayu Kolintang yang menggema hingga ke relung jati diri Minahasa,” ujar Jeffrey Sorongan, salah satu aktivis dan pemerhati budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.