Pemkab Minahasa dan Perwakilan BI Sulut Panen Cabai Keriting Bersama

oleh -1366 Dilihat
oleh

HSN,MINAHASA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) melakukan panen cabai keriting di Desa Tonsea Lama, Senin (20/5/24).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah kabupaten bersama BI Sulut dalam penanganan inflasi. Panen cabai keriting dilakukan di lahan yang diolah oleh Kelompok Tani Friends Farming di Desa Tonsea Lama, Kecamatan Tondano Utara, Minahasa.

Kelompok tani ini merupakan binaan Pemkab Minahasa, dan dalam pengelolaannya telah menggunakan dana desa sesuai dengan kebijakan nasional. Sebanyak 20 persen dana desa memang bisa digunakan untuk penanganan inflasi di daerah.

Penjabat (Pj) Bupati Minahasa, Jemmy Kumendong mengatakan, komoditas yang paling sering menjadi penyebab terjadinya inflasi di Sulawesi Utara (Sulut) adalah beras, bawang, daging babi, cabai termasuk cabai rawit.

Hal itu berarti kebutuhan masyarakat akan komoditas tersebut sangat besar dan perlu penanganan. “Dengan panen seperti ini diharapkan sedikit banyak berpengaruh di pasar. Harga menjadi normal dan inflasi terkendali. Diharapkan juga hal ini jadi pemicu bagi petani lain untuk menanam cabe keriting.

Supaya, pertama dari sisi pemerintah adalah ketersediaan pasokan, kedua dari sisi petani dapat meningkatkan kesejahteraan,” ujar Kumendong yang juga menyampaikan apresiasi terhadap BI Sulut yang selama ini telah membantu petani di Minahasa.

Sementara itu Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Darmawan Hutabarat mengatakan BI sangat mengapresiasi kegiatan ini karena merupakan implementasi dari hasil High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi (TPID) wilayah Minahasa yang digelar di Amurang, Minahasa Selatan (Minsel), pada Februari 2024 lalu.

“Dari BI sangat senang, karena belum lama ini kami sudah menggelar HLM TPID se Minahasa yang digelar di Amurang, di mana salah satu rekomendasinya adalah meningkatkan produksi cabe, bawang, dan tomat. Panen cabai keriting ini pun merupakan salah satu implementasi dari kesepakatan pada HLM tersebut,” kata Darmawan.

Dia mengatakan, lahan yang diolah oleh Friends Farming untuk menanam cabai keriting dan tomat yang luasnya 2 hektar akan sangat membantu penanganan inflasi di saat ada kenaikan permintaan.

“Tadi disampaikan produksi cabai keriting bisa mencapai 20 ton. Ini luar biasa karena paling tidak dapat menahan harga komoditas cabai keriting karena tersedianya pasokan yang cukup,” jelasnya.

Ketua Kelompok Tani Friends Farming, Tonsea Lama, Jansen Pondaag mengatakan, lahan yang digunakan untuk menanam cabai keriting seluas 1 hektar. “Di lahan ini kami menanam 12 ribu pohon dengan produksi hasil total 20 ton. Dan dalam setahun bisa dilakukan dua kali masa tanam,” ungkap Jansen.

Untuk tomat, kata Jansen, ditanam sebanyak Seribu pohon dengan hasil 3 kg per pohon. Sehingga, produksi total mencapai 3 ton dalam sekali panen, dan dalam setahun tiga kali musim tanam. “Untuk pemasaran, dari pengepul yang datang mengambil langsung dan sebagian kami pasarkan ke pasar Tondano,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini harga cabai keriting cukup bagus. Beberapa hari lalu pihaknya menjual ke pengepul dengan harga Rp. 20 per kg, sebelumnya hanya Rp. 17ribu per kg. Begitu juga dengan tomat, saat ini harga satu kas Rp. 400 ribu per kg, sebelumnya hanya dikisaran Rp. 180 ribu per kg.

Dalam penanganan inflasi, BI menetapkan empat program 4K yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.

Panen komoditas cabai, tomat dan komoditas lainnya yang dilakukan BI bersama pemerintah kabupaten/kota selama ini pun merupakan implementasi dari 4K tersebut. (ndy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.