Pemerataan Listrik dan Harapan Baru dari Ujung Desa

oleh -1192 Dilihat
oleh

HSN,JAKARTA – Mata Ruslan (52) tampak berkaca-kaca menceritakan tentang rumahnya yang akhirnya mendapatkan aliran listrik untuk pertama kalinya. Bagi Ruslan, cahaya itu bukan sekadar lampu yang menyala, tapi harapan yang perlahan tumbuh di sudut-sudut rumah panggung miliknya di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Ia menuturkan bahwa dulu ia bekerja sebagai sopir truk, merantau dari satu kota ke kota lain di Sumatera Selatan dan Pulau Jawa. Setelah bertahun-tahun hidup berpindah-pindah, pada 2010 ia dan istrinya, Samitri (49), memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Mereka ingin membesarkan anak-anak di tanah kelahiran, meski harus memulai segalanya dari nol. Di desa itu, listrik belum menjangkau rumah-rumah warga. Ruslan dan tetangganya mengandalkan genset untuk penerangan, dengan bahan bakar yang harus dibeli.

Namun, karena keterbatasan daya listrik yang dihasilkan dan keterbatasan ekonomi untuk membeli bahan bakar, Ruslan tak bisa menyalakan genset sepanjang hari. Biasanya, ia menyalakannya sebentar sekitar pukul 04.30 setelah salat subuh, sekadar untuk menyiapkan sarapan.

Setelah itu, mesin dimatikan dan baru dinyalakan kembali sore hari sekitar pukul 17.30 hingga pukul 22.00. Sebagai buruh tani di kebun karet dan sawit, penghasilan Ruslan tak menentu. Kadang Rp700 ribu dari sawit, kadang Rp800 ribu dari karet. Totalnya paling tinggi Rp1,6 juta sebulan.

Ruslan bercerita bahwa istrinya sebenarnya penjahit. Namun, sebelum ada listrik, semangat sang istri untuk menjahit sempat menurun karena harus mengandalkan genset yang sulit dinyalakan. Selain itu, aliran listrik dari genset juga tidak stabil sehingga mesin jahit kerap mati mendadak.

Kini, setelah listrik masuk ke rumah, semuanya menjadi lebih mudah. Cukup colok dan langsung bisa digunakan. Ia menyampaikan bahwa kehadiran listrik membuat anaknya bisa belajar dengan lebih baik. Selain itu,

Dia juga bisa menghemat pengeluaran hingga Rp200 ribu per bulan. Dengan sistem token, menurutnya biaya listrik kini cukup sekitar Rp100 ribu saja. Sebelum listrik masuk, Ruslan harus merogoh kocek hingga Rp390 ribu setiap bulan hanya untuk membeli bahan bakar genset.

Padahal, itu hanya cukup untuk menyalakan lampu di malam hari sekitar 1 liter BBM per malam seharga Rp13 ribu. Jumlah yang besar bagi keluarga dengan penghasilan terbatas. Ia menjelaskan bahwa penghasilan istrinya dari menjahit berkisar Rp30 ribu per hari.

Dari uang itu, sang istri mengurus kebutuhan makan keluarga, sementara ia sendiri menanggung biaya sekolah anak-anak, termasuk membelikan sepeda motor untuk anaknya yang duduk di bangku SMA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.